Kicau

Sampai dimana
batas lelah
bisa menempuh,
arungi derap napasmu
yang keburu penuh
dengan rasa rindu
tapi kenyataan
akan penganiayaan
selama ini
ternyata lebih berat dari
tujuh lapis langit
tapi tidak pernah
tujuh lapis bumi
?

Rumah

Aku akan terus kembali
Dimana canda tawamu penuhi ruang tamu kita
Dimana aromamu sesaki tempat tidur kita
Dimana cahaya matamu silaukan pagiku
Dimana air matamu sembunyi di balik baju

Aku akan terus kembali
Pada tiap titik dirimu
Yang juga aku
Yang ada darahku disitu
Yang ada lesung pipitku
Rambut lurus ku

Di peluk eratmu,
Surga mendekapku

Menggertak

Setan berkerak
Sudah lama sekali
Sampai dia beranak bini
Sampai aki dan nini disini

Butuh waktu lama
Untuk terus menghentak
Teriak
Bergerak

Harus sabar
Biar dia terkapar lapar

Selingkuh

Entah dengan siapa
Nanti aku berbagi sepi
Mungkin dengan awan,
atau dengan api
Atau dengan kamu yang juga sedang dirundung sepi
Maukah kamu berbagi sendu bersamaku disini?
Bersama amarah yang keburu patah dimakan gigi berduri
Bersama kecewa yang keburu dihempas oleh dia punya istri

Maukah kamu berbagi sepi?
Dengan nyawaku yang kian hari habis diterkam mimpi

Guilty Pleasure

How beautiful is the thing you think is not? Just because it remains mysterious, untouched, unspoken.
All words you have imagined, planned to be vomitted, vanished against all the beauty it shaped because the barrier that kept it forbidden to be reached.
How come a very simple, boring thing became unusual part of your curiousity just because the distance it held between you and your itchiness of knowing what it is, how will it be, what would have happened if I could...? And in a second your head was filled by nothing but what if..

What if...
I never stepped outside and let it be mystery. Let it be untouched.
Maybe. It wouldn't be like death after death handling the battle between the beasts or so..

Let the what if stays untouched.
So I can say more goodnight to whom my what if meant to.

Law

Tell me which law you are living in.
That is able to say I am wrong.
Which is not strong enought to proove I am right.

What if your law is against mine?
That in my version, I am able to choose what I should do first in my endless, ever-changing, to-do list.
That in MY version, I cannot do anything under someone's stressed words.

Which part of YOUR law allowed you to chant frenzy mantra that makes me dizzy to finish my chores?
In MY law, you are confirmed as villain with Angel's face.
Good luck to you. But my law doesn't allow me to pay attention to such beast.

Mental

Tidak ada kata sayang
Dan pembuktian
Yang paling dalam
Dari :

Sabarmu atas keras kepalaku
Maklumku atas lempar batu sembunyi tangan mu
Helaan napas dalamku atas berlikunya jalan pikiranmu
Mengalahnya mu atas keegoisanku

Hubungan kita itu romantis, Sayang
Percaya
Nanti
Kita akan tertawa di atas semua latihan ini

Reffrain

We have spent hours
Talking about us

We have been through thousand miles
Talking about us

Yes
I'm all yours to mend
I'm all yours to mend
I'm all yours to mend
I'm all yours to mend...

(new song lyrics, still haven't figured out the rest)

Sembilan

Gerak, melingkar, membolak, membalik
Bagaimana bisa
Aku lupa
Mengucap syukur di setiap kedipan mata

Karena kamu selalu ada untuk mengingatkan
Dia ada, di setiap hela napas kita

Cerita



Saat diam
Tidak bisa lagi
Bicara
Tentang kekecewaan
Atau
Tertawa
Tidak lagi bisa
Tutupi
Keterpurukan

Saya
Dan
Kamu
Lari
Ke
Alam mimpi

Dimana
Tidak ada
Tawa
Sedih
Haru
Sesak

Dimana
Cuma ada
Mimpi
Yang membawa jauh
Ke mimpi-mimpi
Kita
Yang
Cuma sekedar
Mimpi-mimpi

Yang cuma
Nyata
Bukan di depan mata
Bukan di dalam hati
Tapi di mimpi

Yang terus membawa
Ke diam
Ke tawa
Dan mengembalikan
Kita
Ke mimpi

Sedih, iya
Tapi lebih baik
Daripada
Tidak punya mimpi
Sama sekali

Mungkin.

Mungkin juga tidak.

Tiket



Tujuan wisata saya
Ada di atas kasur, dengan seprei ungu wangi lavender
Bukan lagi Kyoto
Bukan lagi Irlandia
Bukan ke penangkaran kura-kura

Di atas kasur seprei ungu
Saya memandangi lautan luas kehidupan
Rahasia
Yang tidak ada di Tokyo
Tidak ada di Paris
Tidak ada di dagu kucing peliharaan

Saya tidak bangga
Sudah jalan-jalan sampai pantai Thailand
Punya peliharaan anjing yang bisa tangkap bola atau berlarian menuju saya sesampainya saya di rumah

Di atas kasur ungu
Pelarian saya
Dengan kamu

Cuma itu

Tak peduli sinar matahari
Atau hujan badai
Selama ada kasur
Kita akan terus menjelajah 
Sampai besok tidak lagi akan ada

Tidak ke Jerman
Bukan ke Russia
Tapi ke surga.

Kita



Nyata
Tanpa kata
Terus ke lantai atas
Berdua

Tanpa kamu
Saya diam menunggu

Tanpa saya
Kamu diam tak melangkah

Kita
Jauh di atas
Terus melangkah

Berdua
Bertiga
Berempat
Mungkin nanti juga berlima

Kita
Tanpa kita
Bukan kita

Dendam

Di bawah sinar bulan aku ditikam napsu
Untuk menghabisimu besok pagi
Dengan makian sinis, sadis, supaya kamu dipecat dan berhenti menindas kawan-kawanku

Di atas tanah basah aku serius menatap langit
Yang kelam menghitam lalu menangis perlahan
Aku yang penuh napsu meracau mencaci otak busuk dan akal pendekmu

Sampai tiba waktunya pagi
Setelah tidur lelap karena bermimpi membunuhmu
Aku melahap jam beker dan deringannya yang nyaring
Bergegas dengan sigap, menuju tempat dimana kamu duduk manis di ruangan penuh dokumen, ruangan sejuk nyaman sementara kami berkeringat kehausan

Setiba melihat wajahmu
Saya terpana
Betapa saya tahu saya tidak usah melakukan apa-apa

Di dahimu terpampang jelas
Tanggal kematian yang menjemput semua kebiadabanmu
Yang mencairkan kebekuan semua kebodohanmu



Embun

Dan semua tangis buah kesabaran itu..
Nanti bermuara dimana?

Diam

Aku diselimuti napsu
Yang terbendung dari kepala sampai kakiku

Melenting, membesar
Siap dilontar ke lidah penuh tipu daya milikmu

Kamu diselimuti napsu
Yang keluar dari pori kulit berkeringatmu
Sudah terlontar, meracau kacau membludak di depan mukaku

Kita ini apa?
Kalau cuma bisa ikuti hingar bingar amarah tanpa mau meredam, mengalah

Aku itu apa?
Kalau cuma bisa membendung napsu tapi menanam dendam pada orang-orang

Kamu itu..
Ah, aku tak mau lanjut bicara
Biar kamu berjaca saja pada kesulitan hidup yang melilit leher, menusuk perut pembualmu