Anjing!

Basah, deh.
Baju saya basah. Bantal saya basah. Seprei saya basah. Bukan gara-gara sperma tapi gara-gara air mata. Walaupun saya PSK bukan berarti saya kehabisan stok air mata.
Saya sedang berada di ruangan kotak sempit yang gelap. Biasanya saya tidak disini. Biasanya, jam 12 malam begini saya sedang asyik meladeni tamu-tamu yang kebanyakan sudah beristri. Kebanyakan dari mereka bilang, hidup mereka terlalu singkat kalau tidak dipakai bersenang-senang. Kata mereka juga, istri dan anak butuh banyak tanggungan yang membuat mereka mesti banyak keluar uang, bahkan kadang-kadang ngutang. Jadi, mereka lebih memilih untuk bersenang-senang dengan perempuan jalang daripada mesti keluar uang atau berhutang tanpa mendapat kesenangan dari jalang. Tolol memang.
Suatu hari saya melihat seorang tamu di ambang pintu. Cahaya remang-remang membuat saya sulit mengenalinya dari jauh.Sampai akhirnya, si mucikari memanggil saya untuk sabar menunggu si tamu sampai kamar. Betapa terkejutnya saya saat melihat wajah binatang mengerikan dengan seringai di tepi bibirnya yang seolah siap menerkam saya dan menggigit serta meremas payudara saya di bawah tubuhnya. Kembali wajah itu memberikan seringai yang membuat wajahnya lebih menjijikan dari tahi anjing. Saya ingat, dia yang membawa saya kesini, atas keinginannya. Karena katanya, saya cukup memuaskannya berkali-kali. Jijik. Anjing!
Saya takut. Saya kalut. Saya tidak bisa memainkan permainan yang saya mainkan berkali-kali di kamar remang-remang ini. Di otak saya, saat dia mulai aksi yang tidak-tidak, saya bersetubuh dengan anjing. Anjing!
Langsung tersirat di benak saya, malam dimana dia dengan wajah tahi anjingnya menghampiri saya di kamar. Dalam keadaan sepenuhnya sadar. Kemudian dia menerjang, menggulingkan, menindih, menguda-ngudai, menodai, menindih, menerjang, menggulingkan, bahkan mencekik saya. Kesana kemari. Berkali-kali. Sampai saya setengah tak sadarkan diri. Berkali-kali.
Seperti yang dia lakukan malam ini.
Dua tahun lalu, saya tidak bisa apa-apa karena saya cuma setengah sadar. Tapi, malam ini, saya benar-benar sadar akan apa yang si wajah tahi anjing itu lakukan. Anjing!
Si binatang sialan itu. Saya tidak tahan. Saya ambil botol minuman yang tergelatak di sebelah jambangan. Saya pecahkan. Saya tusukkan. Saya berkali-kali merusak, merobek, membanting tubuh si wajah tahi anjing yang penuh darah itu. Merusak. Merobek. Membanting. Tusuk! Robek! Banting!
Anjing!
Itu sebabnya sekarang saya disini. Di ruang kotak gelap sepi. Sendiri. Membasahi baju. Membasahi bantal. Membasahi seprei. Bukan gara-gara sperma pelanggan-pelanggan saya. Tapi, gara-gara air mata. Air mata gara-gara saya lupa. Masih ada anak haram dan ibu saya di luar sana. Yang sama-sama menangis dan mengutuki si jalang yang ada di bui.
Anjing!
11maret07

2 comments:

spiritsickk said...

anjingg saya suka tulisan yg inihh...anjingg! :D

maulani said...

u are sick!
anj*ng!
:p
makasi ya ikko.iya ya.liar juga..