Betapa

Dalam hening aku menimang asa yang tak terucap. Aku bersenandung tanpa suara dalam hati yang kerap berharap. Air mata yang selalu ku sengaja bendung. Percakapan yang kian hari semakin aku hindari. Dalam hening juga aku merasa lebih mudah untuk berbicara denganmu, cinta. Akan percakapan-percakapan hati yang aku buat sendiri. Akan angan-angan yang semakin hari membuatku ingin berkhayal lagi.
Aku terlalu takut kamu pergi kalau aku bicarakan semua harapan, semua angan. Betapa aku ingin selalu memegang tanganmu saat aku merasa lelah mengurus rapat himpunan dan kemudian harus melewati malam panjang tanpa belaian. Betapa aku ingin berada dalam pelukan hangat penerima segala yang ada padaku saat aku merasa tugas-tugas kuliah makin menumpuk, terbengkalai tak karuan di atas meja makan. Betapa aku ingin merasakan kecupan-kecupanmu di pipi, bibir, dan leherku sebelum memulai hari yang panjang dan melelahkan.
Dalam hening, cinta. Aku merasa aku lebih mudah untuk mengutarakan semua asa, tanpa takut kamu akan pergi begitu saja. Betapa di setiap doa aku selalu meminta agar dapat menjadi milikmu seutuhnya. Menjadi orang yang senantiasa bangun pagi dan membuatkan kopi lalu mencium keningmu setiap kamu memulai hari. Betapa aku ingin kamu memperhatikanku dari balik jendela kamar kerja saat aku menyiram bunga-bunga indah yang bermekaran di halaman. Betapa aku ingin dirimu terus berada dalam pengharapan yang sama. Betapa aku sangat ingin menjadi milikmu seutuhnya.
Mengetik ini, dalam hening, cinta, aku menangis. Betapa banyak kata yang tak terucap. Betapa banyak harapan yang meluap. Betapa banyak. Betapa tak terhingganya. Betapa tak tertahankannya.
Dalam hening, cinta. Aku perlahan mengetuk hatimu yang tak kunjung meluruh. Sekaligus, aku menyerah dalam cinta yang kian menyeluruh. Sungguh.
Betapa aku sangat mencintamu yang sama sekali tak tersentuh.

21maret07

1 comment:

SPIRITSICK said...
This comment has been removed by the author.