Dia

Lelaki itu tidak setinggi lelaki idamanku. Dia juga tidak jago bermain basket seperti mantan kekasihku atau setampan ‘atlet-atlet’ yang biasa bermain di lapangan basket sekolahku. Dia hanya dia dan aku hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Tentang cinta yang tiba-tiba menghunus, mencabik dan mengeluarkan semua isi perut kami karena muak menunggu suatu pasti.

Aku memegang tangannya seerat dia memegang tanganku. Yang aku tahu, ada dua pasang mata yang menunggu kami di seberang sana. Tapi tidak sampai dihunus, dicabik dan dirobek perutnya sampai semua isinya keluar karena mereka muak menunggu. Kami harus pulang ke sepasang mata yang berada di tempat yang berbeda. Kami tidak seharusnya ada disini berpegangan tangan, berpelukan , dan bertukar ciuman sementara dua pasang mata tadi terus menanti. Tapi mereka tidak merasa dihunus, dicabik, dan dirobek perutnya sampai semua isinya keluar karena mereka muak menunggu.

Kami hanya berpandangan tanpa kata-kata. Sesekali dia mengelus rambutku dan mengomentarinya. Dia adalah pemuja yang sangat setia. Satu-satunya pria yang tidak peduli betapa lusuhnya aku. Satu-satunya pria yang tidak pernah peduli betapa cantiknya aku. Dia, sekaligus salah satu dari sekian banyak orang yang tidak peduli betapa hancurnya aku karena cinta yang tiba-tiba menghunus, mencabik dan mengeluarkan semua isi perutku karena aku muak menunggu.

Dia melucuti pakaianku dan aku pasrah di bawah tubuhnya. Sesekali dia menciumku. Matanya penuh akan ketidapuasan saat itu. Begitu juga aku. Karena cinta yang tiba-tiba menghunus, mencabik dan mengeluarkan semua isi perutku karena kami muak menunggu.

Sampai kapan kita akan membiarkan sepasang mata itu menunggu, tanyaku di sela-sela sentuhan bibirnya.
Sampai mereka merasakan cinta yang menghunus, mencabik dan mengeluarkan semua isi perut mereka karena mereka muak menunggu, jawabnya di sela-sela pelukanku.
210306

No comments: