Lembayung Bayu

“Aku baru sadar namamu adalah bagian dari namaku,” kata perempuan itu dengan nada girang yang tak terkira. “ Ternyata bagus juga namaku.”
“Lembayung? Bayu? Bagus?” tanya pria yang katanya namanya adalah bagian dari nama dia dengan nada dingin yang jauh dari ramah.
“Bayu, kamu memang tidak bisa senyum?”
“Lembayung, kamu memang tidak bisa diam?”
Lembayung tidak peduli. Ia bersikeras bahwa nama mereka akan berarti suatu saat nanti. Ia benar. Setidaknya ia pernah merasa perasaan itu menjadi sesuatu yang benar-benar benar.

“Bayu, kamu suka musik apa?”

“Lembayung, kamu suka baca novel?”

“Bayu, kamu bisa trigonometri, ‘kan?”

“Lembayung, sini., aku ajari Fisika!”

“Bayu, kamu sudah sarapan?”

“Lembayung, mau makan siang bersama?”

“Bayu, nanti malam aku telepon kamu.”

“Lembayung, besok kita nonton, yuk?”

“Sayang, aku sedang dengar musik jazz seperti biasa. Kamu sedang apa?”

“Cinta, aku sedang membaca novel Seno lagi. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang bingung sama skripsi, nih. Kamu bisa bantu aku disini, tidak?”

“Cinta, nanti aku pinjami salah satu buku untuk referensi skripsimu.”

“Sayang, aku sudah membuatkanmu sarapan.”
“Cinta, aku sedang makan siang dengan klien kantor.”

“Sayang, nanti malam aku mau arisan sama teman-teman SMA.”

“Cinta, besok aku ada rapat lagi sampai pagi.”

“Sayang, besok aku reunian sama teman-teman SMP.”

“Cinta, besok kita makan malam bersama, ya?”

“Sayang, hari ini kita harus mengukur baju.”

“Apa kamu bersedia, Lembayung tercinta?”

“Aku bersedia, Bayu tersayang.”

Cincin sehidup semati itu melingkar di jari menis masing-masing tangan kiri.

No comments: