Mau Curhaaatttt

Ya, ya. Seperti judulnya: Mau curhat. Memang saya sedang mau curhat. Apa ngegosip, ya? Ah, apalah. Jadi...begini.
Hahahaha! Belum memulai saja saya sudah mau ketawa saking senangnya.
E-Ehm!
Jadi begini. Hari ini adalah hari pertama saya masuk kuliah kembali setelah libur Lebaran cukup lama, mm...sekitar dua minggu, lah. Otomatis, saya tidak bertemu si lelaki yang saya mau ceritakan sekarang. Dan tadi, di awal hari saya memulai kuliah. Saya melihat dia!!! AAAAA!!!! Senang sekaliii!!!
Mmm...apa? Namanya? Mau tahu namanya?
Jangan, ah. Saya tidak mau menyebutkannya. Nanti ketahuan, deh.
Apa? Ciri-ciri fisik?
Okay.
Dia itu......
LUCU!!!!
Hahahaha! Sampai saya tertawa betulan di depan monitor komputer saya.
Jadi, tadi saat awal saya dan dia berpapasan, dia langsung mengomentari rambut saya yang baru saja saya potong – ini potong rambut gagal sebenarnya. Aaaahhh...saya sampai bingung mau mengetik apalagi!
Aduuuuhhh...
Intinya itu,deh! Saya sangat senang hari ini. Saya bisa ketemu teman-teman, ngegosip lagi, suntrung-suntrungan kepala, nyubit-nyubit pipi tembem teman-teman saya, dan....KETEMU SI LUCU!!!!
Hihihi...saya masih ingat ekspresi wajah dia, terus cara bicaranya yang...BOOM! Langsung menyihir saya tepat pada sasaran, terus suaranya, bibirnya, wajahnya, mata...AAAAHHH!!!!!
Jangan bilang saya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta sama seorang pria?? Aduuuhhh......ini bukan cinta, ‘kaaann?? Saya Cuma nge-fans kok sama dia.
“Sayang, cepetan dong!!” Saya terhenyak dari lamunan tentang Si Lucu setelah mendengar suara lembut dari bawah.
Saya tertegun mendengar suara lembut itu. Tak lama kemudian, saya mendengar derap langkah yang mendekat, saya menengok ke sumber suara.
Napas saya sempat terhenti. Tuhan, dia cantik sekali, batin saya terus mengulangi puja-puji. Si Cantik kemudian berjalan mendekati.
“Kamu sedang ngetik apa?” tanyanya dengan suara lembut yang sungguh menggoda.
Saya cepat-cepat menyimpan hasil ketikan saya di...dimana tadi, asal tekan icon “yes” saja.
Saya tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. Saya berdiri di hadapan perempuan cantik itu.
“Kamu lama.”
“Iya, maaf,” saya membalas singkat. Aroma parfumnya yang lembut menusuk hidung memacu adrenalin saya. Saya tidak bisa menahannya. Saya mendekatkan bibir saya ke bibirnya.
Siang itu sepulang saya kuliah, saat saya dan dia bolos rapat himpunan, menyengajakan diri singgah di rumah ini. Di rumah saya yang kosong sepi.
Aroma parfumnya masih memenuhi kepala saya. Saya menciumnya lebih lama. Dia membalasnya dengan mesra. Tidak peduli sudah telah ke acara ulang tahun Rini.
Tidak peduli saya masih berantakan dan belum mandi tadi pagi, tidak peduli aroma parfum dia yang sekarang agak membuat pusing, tidak peduli akan kancing bajunya yang sudah tidak tertutup lagi, tidak peduli akan kemeja saya yang perlahan dia lucuti. Lagi-lagi tidak peduli. Walau payudara kamu bertubrukan berkali-kali.

No comments: