Ini. Lebih Dari Ini. Pasti.

Ini. Lebih Dari Ini. Pasti

Jari saya kaku untuk mulai mengetik tentang dirimu.

Banyak hal tidak terelakkan yang nyatanya terjadi disini.

Banyak hal yang susah untuk dijelaskan yang nyatanya memang terjadi disini.

Iya, kata-kata atau sekedar cerita tidak cukup menjelaskan semuanya.

Kita butuh mata.

Kita butuh walau sekedar sentuhan di pergelangan tangan.

Tapi sekarang, hanya ini yang kita dapat.

Hanya ini yang bisa saya berikan.

Hanya ini yang bisa saya terima.

Hanya ini yang bisa kamu berikan.

Hanya ini yang bisa kamu terima:

Paket kiriman.

Berisi catatan saya dalam sebulan.

Berisi sisa pewangi yang sudah lama saya simpan.

Berisi kaos dengan corak dan warna yang sama seperti yang saya punya.

Berisi…apa lagi saya lupa.

Kemudian,

Hanya sekedar suara ciuman.

Dan perkataan seolah kita memang sedang berciuman.

Selain itu,

Laporan-laporan kegiatan saya dalam sehari.

Saya yang kesana, saya yang kesini.

Kamu yang kadang-kadang terima, kamu yang kadang-kadang marah-marah.

Lalu,

Perkataan dan ciuman lagi.

Dalam sehari saya bisa menciummu berkali-kali.

Hanya ini.

Untuk saat ini hanya ini.

Untuk pagi esok hanya ini.

Untuk seminggu ke depan hanya ini.

Untuk sebulan ke depan masih ini.

Apa yang kamu mau, Sayang?

Lebih dari ini?

Iya, tapi kita harus menunggu.

Terombang-ambing dalam permainan waktu.

Relakan perasaan kita dicabik-cabik oleh jahatnya dentuman detik.

Apa yang Saya mau?

Tentu lebih dari sekedar ini.

Lebih dari untuk saat ini hanya ini.

Untuk esok pagi hanya ini.

Untuk seminggu ke depan hanya ini.

Untuk sebulan ke depan masih juga ini.

Tapi saya masih mau.

Saya tahu kamu juga masih mau.

Menjalani ini.

Membiarkan kita dihancur-leburkan, diluka-lebamkan,

Merelakan perasaan kita dicabik-cabik oleh riuhnya godaan banyak orang:

Untuk menyelesaikan.

Untuk tidak kembali merelakan perasaan kita untuk ini.

Untuk mengakhiri semua ini.

Untuk menghanguskan segala yang berhubungan dengan ini.

Tapi, tidak ada satupun dari kita yang mau.

Tidak ada satupun dari kita yang ingin meninggalkan ini.

Walau kita sama-sama tahu,

Kita sama-sama mau lebih dari sekedar semua ini.

Kita sudah cukup hancur-lebur.

Kita sudah cukup luka-lebam.

Kita sudah cukup diporak-porandakan.

Bahkan pakaian pun sudah robek-robek ditarik kesana kemari

Oleh rasa rindu yang menyayat aliran napas juga tenggorokanmu

Juga –ku.

Sayang,

Aku percaya.

Aku juga tahu kamu lebih percaya.

Kita akan bertahan.

Sampai dentuman waktu kita tertawakan.

Kita hancur-leburkan.

Kita luka-lebamkan.

Kita buktikan pada mereka,

Kita buktikan pada semuanya.

Kita bisa. Berdua.

---Anjrit.Cengeng emang gw. 210408---

4 comments:

Anonymous said...

:) ku ngerasa kayak ketampar baca tulisan kamu yg ini dit, tp sayang kita mungkin ga bakalan pernah buat mentertawakan dentuman waktu tak ada yg lagi harus ditunggu...

maulani said...

kalau kamu ke jakarta..atau udah terbang dari palembang. kamu mesti kasih tau aku.

Anonymous said...

ngga fungsi lagi.

maulani said...

but u better tell me.kamu juga pasti mau kasih tau.hehe :p
*ikko baru kasitau.