Hati



Kalau seandainya saya punya hati cadangan, mungkin saya akan memakaikannya di tubuh saya saat saya bersamamu. Memberikan hati cadangan yang tidak penuh dengan kata-kata kasar, tidak penuh dengan makian, tidak penuh dengan keinginan saya untuk dituruti.

Seandainya hati cadangan itu memang ada, saya akui saya akan lebih senang karena hati cadangan itu bekerja sesuai mesin yang memenuhi keinginan kamu, yang bisa membuat hubungan kita berjalan lancar karena semua keinginan berjalan sesuai kemauan kamu.

Jika hati cadangan itu hadir dalam hubungan kita, bisa jadi semuanya akan lebih baik karena saya akan menjadi orang tanpa emosi, tanpa keinginan untuk dimengerti, tanpa keinginan untuk menampar keegoisan kamu yang seperti anjing kelaparan, tanpa keinginan untuk membenturkan kepalamu yang keras ke batu karang. Kamu tidak akan terluka, hatimu terbuat dari baja. Baja itu melapisi tubuhmu, karena itu kamu memang harus berdarah.

Tapi, tidak pernah ada kata selamat datang untuk hati cadangan.
Pada akhirnya, hati saya-lah yang berdarah-darah.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana bisa hati kamu berdarah, kalau kamu hanya membenturkan hati saya? Kalau saya tidak pernah cukup dalam menusuk hati kamu, entah dengan kata-kata saya atau dengan sikap sok benar saya.

Kalau saja hati kamu memang bisa berdarah, buktikan di depan saya, dengan anak panah di sekujur tubuhmu, dengan luka bakar di sekitar hatimu, dengan kata-kata halus.
Kalau memang hati kamu belum cukup berdarah, selamat tinggal adalah kata-kata yang saya akan ucapkan selanjutnya.

Dan hati cadangan itu, memang tidak pernah ada.

It is. Isn't it?



I think it’s okay to let go some love. To breathe out some foolish thoughts. To let you go.

I think it’s okay to think of anybody else. To dive into their minds. To fuck within 20 minutes, under influence of the moon.

I think it’s legal to have illegal thoughts about satan. To summon dangerous spell upon you who have loved me, who have known me well. To do bad things.

I think it is okay.

To let you go.

Pengertian



Saya tidak tahu apa-apa. Saya buta. Entah ini perasaan macam apa. Saya sungguh ingin membunuhnya. Saya ingin membunuhnya. Saya ingin membunuhnya. Saya ingin membunuhnya. Persetan ini apa. Saya harus membunuhnya.

Rambutnya pendek, fashionable. Betapa saya iri padanya. Sungguh saya ingin menjadi seperti itu. Punya stock baju selemari lebih. Wajahnya oriental. Saya sungguh ingin membunuhnya. Saya ingin membunuhnya. Saya ingin membunuhnya.

Ternyata lelaki brengsek itu masih menyimpan foto-foto dia di komputernya. Mungkin tidak ada di komputer juga, dia masih ingat semua memori tentang mereka di hatinya.

Saya kalah. Saya kalah. Dari jauh hari sebelum saya memulainya. Saya sudah kalah. Dia memang bukan untuk saya. Dia untuk perempuan itu. Tidak akan berubah sampai kapanpun.

Nama mereka sama, bergantung pada satu sama lain. Nama mereka sama, bagian dari masing-masing. Saya tidak ada apa-apanya dibanding dia.