Ode to Selfishness


Kalau kamu tahu bagaimana rasanya lapar, kamu pasti tidak akan korupsi.
Akan takut mengambil hak orang lain. Akan takut azab yang menuntunmu ke neraka.

Kalau kamu tahu rasanya menderita, pasti kamu akan bersikap adil. Pasti tidak akan memukul seenaknya orang miskin. Pasti tidak akan memenjarakan pencuri ayam yang tidak punya pekerjaan sementara anak-istrinya sudah dua hari kelaparan.

Pak Presiden yang gembul, pasti makannya banyak. Coba puasa. Lebih dari dua belas jam. Penderitaan otang miskin itu tidak hanya menahan lapar selama dua belas jam!!!

Bangsat.

Kalau kamu merasa pemimpin, kamu harus merasakan penderitaan rakyat. Tidak dengan bersimpati obral kebaikan sana-sini tapi diikuti kamera televisi.Tidak dengan memberikan uang tapi seiring waktu pemilihan umum usai, kamu mengambil paksa uang kamu dengan keharusan membayar pajak berlebih!

Saya, mantan mahasiswa yang berusia 23 tahun di kota kecil, menantang semua pemimpin untuk puasa 24 jam tanpa tidur dari waktu magrib sampai subuh. rasakan kemewahan makanan, rasakan seteguk air yang datang. Rasakan penderitaan rakyat yang datang. Rasakan penderitaan rakyat miskin supaya kalian tahu berappa korupsi itu benar-benar pekerjaan babi!

Pantat!

Tapi untuk sekarang, saya mau menyudahi.
Selamat untuk para koruptor, selamat untuk para penganiaya. Selamat untuk para bos besar yang menyiksa bawahannya. Selamat untuk para petinggi anjing yang cuma suka nongol di televisi dengan senyum dan bicara, “Saya menyumbang sekian puluh juta”.
Saya tidak akan ikut ke neraka bersama Anda-anda.

Tidak percaya juga azab menanti? Tunggu sampai benar-benar mati. Rasakan sendiri sensasi pecutan bara, api bergejolak dimana-mana. Dan, penderitaan rakyat jelata, mengaum bersama mereka.
Selamat mencicipi menu lengkap penderitaan di neraka.
Saya tidak mau ikut Anda-anda.

Dadaaah!

No comments: