Selasa Malam


Rasa sakit dalam hati, bisa tersisa bisa pergi. Tapi, saat menatap dalam matamu yang cekung, aku merasa tidak ada yang perlu aku tangisi. Luka itu memang selalu datang, tapi tidak untuk singgah semalam. Bisa hanya beberapa jam, bisa sampai seharian, sebulan, tahunan. Tapi saat memalingkan mataku ke dalam matamu, ada cahaya yang tidak pernah redup. Cahaya yang senantiasa bicara, "aku akan peluk kamu sampai tangismu mereda".

Redanya tangisku, membuat cahayamu meredup.

"Kamu tidak membutuhkan aku saat bisa tertawa lepas".

Aku kembali berkaca-kaca. Apa bisa aku kuat tanpa pelukan kamu?

Seperti orang bodoh, menunggu kabar dari timeline yang tak kunjung datang.

"Kamu akan baik-baik saja," aku mengutip kata-katamu.

Aku menangis. Tapi aku tidak meredup. Keinginanku untuk bertemu denganmu tidak meredup.
Aku terus menangis, tapi aku tidak meredup. Aku melihatmu di ujung tujuanku.

Itu.
Kekuatan itu, yang tidak bisa aku raih sekarang. Aku harus kembali melewati beribu lapisan tangis. Beribu level kesesakan. Aku terus mengejarmu.

Kekuatan itu yang aku butuhkan.

Keyakinan kamu masih menunggu, di ujung jalan. Sampai aku kuat dan tinggi, sampai aku memakai mahkota putri. Kamu disana, di ujung tujuanku, tetap bersinar, walaupun hanya setitik tapi kamu ada.

Keyakinan itu, yang menuntunku, menuntun rasa rindu berkepanjanganku, bertahan sampai akhir.
Sampai akhir saat aku kelelahan kehabisan napas.
Sampai akhir.

Sampai cuma aku yang menatap mata cekungmu.
Bukan dia, atau siapa-siapa.

Sampai akhir.
Aku akan berlari menuju cahayamu.
Supaya cuma aku
yang bisa memeluk dan bernapas di balik tubuh rapuhmu.


(lagi dengerin Sara Bareilles- The Light)

No comments: